Diambil dari kitab al-Qaul al-Mufid fi Talkhish ‘Ilmi al-Aqaid
Bersama Ustaz Muhammad Nuruddin, di Bremen - 15 Juli 2025
Oleh: Muhammad Ar Rayyaan Makiatu
Sifat at-Tablīġ (Menyampaikan)
Sifat ini maknanya bahwa Nabi itu menyampaikan dari Allah semua hal yang mereka diperintahkan untuk disampaikan kepada makhluk-Nya. Adapun lawannya berarti menyembunyikan (al-kitmān), dan telah lewat penjelasan tentang tetapnya sifat amanah bagi nabi, maka mustahil nabi berbuat maksiat, sedangkan penyembunyian itu adalah bagian dari dosa. Manakala mustahil sifat menyembuyikan itu maka tetaplan sifat tablig dan itulah yang dicari. Allah berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (QS. Al-Mā`idah: 67)
Sifat al-Faṭānah
Sifat al-Faṭānah artinya bahwa Nabi disifati dengan kecerdasan, karena statusnya sebagai pembawa risalah ilahi yang agung, dan bahwa dia dibebani untuk menyampaikan bukti-bukti kebenaran di hadapan orang-orang yang menentang ajarannya, dan membungkam perkataan orang-orang kafir dan orang-orang yang angkuh. Kalau nabi tidak cerdas, maka dia disifati dengan kebalikannya, yaitu kebodohan. Bagaimana mungkin sedangkan dia adalah utusan Allah? Adapun utusan yang sejati tidak akan bisa memahami maksud dari yang mengutusnya dan menyampaikan risalahnya dengan sebaik mungkin kecuali kalau dia paham dengan pemahaman yang mantap dan bisa menyampaikan pesan itu, dan semua ini meniscayakan sifat kecerdasan.
Beberapa ulama tidak menyebutkan sifat fatanah, karena hal ini sangatlah jelas, seperti disebutkan oleh Imam Sanusi. Imam Razi berpendapat para nabi datang sebagai dokter yang mengobati penyakit, yaitu penyakit hati dan hawa nafsu manusia.
Sifat al-Jāiz bagi Nabi ﷺ
Kemudian tersisalah sifat yang jaiz (boleh) bagi para rasul – semoga ṣalawāt dan salam tercurah atas mereka – yaitu berlakunya sifat-sifat kemanusiaan yang normal, seperti rasa lelah, sakit, lapar, haus, sedih, dan selain itu dari sifat-sifat kemanusiaan yang biasa. Dan perbuatan para nabi berkisar antara hal yang sunnah atau yang wajib.
Nabi mungkin merasakan sedih, kecewa, atau pusing, tapi pada kadar yang wajar. Oleh karena itu para ulama menolak cerita Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang dikatakan memiliki penyakit yang menjijikkan, cerita ini dianggap bagian dari isrāiliyyāt. Perbuatan nabi adalah hanya berkisar antara yang baik
Menetapkan Kenabian Baginda Nabi kita ﷺ
Meyakini kenabian seorang nabi itu bergantung pada dalil, dan dalil atas kenabian Nabi kita ﷺ itu banyak, tidak terhitung. Yang paling nyata di antaranya adalah al-Qurān al-Karīm, yaitu kitab yang menjadi mukjizat, yang dengannya Allah menantang untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya, dan tidak ada seorang pun yang mampu untuk itu. Maka ketika terbukti bahwa makhluk itu lemah, terbuktilah bahwa dia (al-Quran) itu datang dari Sang Pencipta, Allah.
Seringkali orang tidak bisa membedakan antara keyakinan atas benarnya sesuatu dengan benar atau tidaknya sesuatu itu sendiri. Keyakinan itu bukanlah bukti atas kebenaran hal itu, karena kebenaran itu harus dibuktikan dengan dalil dana bukti yang dapat diuji, bukan sebatas keyakinan.
Yang menjadi inti dari dalil kenabian adalah adanya mukjizat. Terbukti mukjizatnya yang terlihat hingga sekarang, yaitu mukjizat al-Quran yang tidak tertandingi hingga akhir zaman. Mukjizat ada dua macam: mu’jizah ḥissiyyah (indriawi) dan mu’jizah ‘aqliyyah (rasional).
- Mukjizat yang bersifat indriawi itu bisa diverifikasi melalui indra yang dimiliki oleh umatnya, informasinya sampai kepada kita melalui kabar yang terpercaya, dalam hal ini wahyu. Contohnya Nabi Musa membelah laut, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api, dll.
- Mukjizat yang bersifat rasional itu yaitu al-Qur’an. Kenapa al-Quran ini adalah sebuah mukjizat, hal ini bisa dianalisa dan diketahui dengan akal. Mukjizat ini sepaket dengan ajarannya, sedangkan hal ini hanya terdapat pada mukjizat nabi Muhammad ﷺ.
Adapun Nabi ﷺ itu adalah orang yang ummiy, tidak membaca dan tidak menulis. Maka bagaimana bagi orang yang ummiy dia bisa mengarang sebuah kitab yang di dalamnya terdapat kisah orang-orang yang ada di zaman dahulu dan yang akan datang, dan mengabarkan kehidupan para nabi yang telah lalu, dan menjelaskan sifat-sifat Tuhan pencipta alam semesta, mengabarkan hal-hal gaib seperti akhirat, hari perhitungan amal, surga, neraka, dengan segala perinciannya, dan dia tidak pernah mempelajari kitab-kitab terdahulu sebelumnya? (Maka pastilah al-Quran datang dari Allah yang mengutusnya)
Al-Quran ini adalah dari Allah, karena dia bukanlah dari hasil membaca dan mengarang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Nabi ﷺ tidak pernah memiliki buku sumber pengetahuan, dan tidak juga memiliki guru yang mengajarinya sesuatu tentang kitab suci. Dan sifat ummiy beliau bukanlah membatalkan sifat fatanah, karena fatanah beliau artinya kemampuan untuk memahami dan menyampaikan firman Allah, bukan terkait dengan literasi sebanyak apa buku yang pernah dibacanya. Maksud dari sifat ummiy adalah bahwa beliau tidak membaca literatur dari kitab suci terdahulu untuk mengetahui hal-hal terdahulu, dan tidak menuliskan al-Quran dengan tangan beliau sendiri, atau menyusun kalimat-kalimatnya dengan menuliskannya ke atas media tulis, melainkan Nabi ﷺ mendiktekan secara lisan kepada para sahabat. Firman Allah:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ
“Engkau (Nabi Muhammad ﷺ) tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelumnya (Al-Qur’an) dan tidak (pula) menuliskannya dengan tangan kananmu. Sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis,) niscaya orang-orang yang mengingkarinya ragu (bahwa ia dari Allah).” (QS. Al-‘Ankabūt: 48)
Menceritakan kisah orang zaman dahulu itu mengharuskan kebisaan untuk membaca banyak literatur terdahulu. Sedangkan al-Quran menceritakan bahkan mengoreksi cerita para nabi terdahulu. Dikemukakan oleh para ahli sejarah bahwa belum ada terjemahan Kitab Taurat dan Injil ke dalam bahasa Arab pada abad ke-7, selain itu akses kepada kitab itu hanya eksklusif untuk para pendeta dan rahib saja, maka Nabi ﷺ tidak memiliki akses kepada literatur-literatur tersebut.
Di samping itu, beliau itu jujur dan terpercaya, dan telah masyhur kebaikan akhlaknya di antara masyarakat Arab sebelum diutusnya beliau maupun setelah pengangkatan beliau sebagai nabi. (Setelah bukti tersebut) beliau mengaku bahwa beliau adalah Rasulullah ﷺ , datang dengan mukjizat, dan semua orang yang mengaku membawa risalah kerasulan dan datang dengan mukjizat, maka dia adalah seorang nabi. Maka kesimpulannya: Baginda Muhammad ﷺ adalah seorang nabi, dan meyakini kenabiannya adalah keyakinan yang sesuai dengan kenyataan.
Seseorang yang diduga nabi valid sebagai nabi bila datang dengan dua hal: 1) Mengaku sebagai nabi; 2) Datang dengan mukjizat, atau 3) Dikabarkan oleh seorang nabi yang lain tentang kenabiannya.
As-Sam’iyyāt (Sesuatu yang didapat dari Wahyu)
Wajib kita beriman akan keberadaan sesuatu yang gaib, seperti surga, neraka, perhitungan amal, sirat (jembatan yang terbentang di atas neraka dan menyeberangkan ke surga), kebangkitan, syafā’at, azab kubur, malaikat, jin, syaiṭan, dan segala yang dikabarkan oleh sosok yang jujur ﷺ. Maka hal-hal ini bukanlah dari kisah-kisah rakyat dan hal-hal yang bersifat ilusi, melainkan hal-hal yang nyata secara aktual, karena hal ini dikabarkan oleh seseorang yang kenabiannya telah terbukti secara pasti, dan dia adalah Nabi kita Muhammad ﷺ , dan Nabi ﷺ tidak mungkin berbohong. Maka meyakini keberadaan hal-hal itu bukanlah hal yang diterima begitu saja, melainkan hal yang bersandar pada ilmu yang sahih dan meyakinkan. Dan semua perkataan yang bersifat ilmiah (bersandar pada ilmu) haruslah diterima, kalau tidak maka kita akan jatuh pada pengingkaran yang tidak berdasar, dan itu tidak tepat.
Hal-hal gaib dapat dibagi menjadi dua kategori, tergantung pada sumber informasinya:
- Khurafat, yaitu hal-hal yang berasal dari sumber yang tidak jelas atau tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti cerita rakyat, kisah-kisah hantu, atau mitos yang beredar di masyarakat.
- Hal gaib yang bersumber dari wahyu Allah, seperti keberadaan malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan sejenisnya.
Hal-hal gaib ini tidak dapat diuji dengan metode empiris, karena berada di luar ranah sains. Namun, ia dapat diuji melalui validitas sumbernya. Jika sumbernya adalah wahyu yang sahih, maka hal gaib tersebut merupakan bagian dari pengetahuan yang bersifat ilmiah dalam kerangka keimanan, bukan sekadar dongeng atau cerita fiktif.
Al-Qur’an sebagai sumber wahyu memiliki validitas yang tinggi karena ditransmisikan secara lisan dan tulisan dengan metode keilmuan yang ketat. Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu langsung dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam. Beliau kemudian menyampaikannya kepada para sahabat, yang mencatatnya sesuai petunjuk Nabi ﷺ: mulai dari lafaz, cara penulisannya (rasam), susunan ayat, hingga urutannya dalam muṣḥaf. Penulisan al-Qur’an telah dimulai sejak masa Nabi, dipimpin oleh sahabat Zayd bin Ṡābit, dan distandardisasi pada masa khalifah ‘Uṡmān bin ‘Affān. Sejak saat itu, mushaf al-Qur’an yang kita miliki hingga kini tidak mengalami perubahan satu huruf pun dari yang diterima Nabi melalui wahyu. Pengajaran secara lisan juga dijaga ketat melalui jalur periwayatan yang masif dan bersambung, dihafalkan dan dipelajari oleh banyak orang dari generasi ke generasi, sehingga apabila ada kesalahan sedikit pun akan langsung dikoreksi oleh yang lain. Cara membaca al-Qur’an, termasuk harakat, i‘rab, makhārij al-hurūf beserta sifatnya, panjang-pendek (mād dan qasr), dengung (ġunnah), dan lainnya, dijaga dalam ilmu tajwīd dan qirā`āt. Makna-maknanya pun dijaga dan diperinci oleh para ulama melalui ilmu gramatika Arab (naḥw), morfologi (ṣarf), linguistik bahasa Arab yang mendalam, balāġah dan berbagai kamus kosakata al-Qur’an sebagai pendukungnya.




