TUJUH tahun lalu, saya berbincang dengan Ibrahim, sesepuh di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Puluhan naskah kuno berusia ratusan tahun tertata rapi di lemari rumahnya. Tangannya bergetar halus ketika dia memperlihatkan sebuah kitab tentang Isra Mikraj beraksara Arab-Melayu. “Saya tidak bisa membacanya,” ucapnya. Saya heran kenapa dia menyimpan dan merawat tulisan-tulisan tua itu sementara tak satu pun dia mampu membacanya. Dia pun menjawab, “Saya hanya menjalankan wasiat orangtua.” Katanya, dulu, buku itu selalu menemani ayahnya berceramah, modal utama seorang pemuka membekali masyarakatnya dengan nilai-nilai agama.









