oleh:
Muhamad Khamdani
Alumni PP. Sunni Darussalam Yogyakarta
Di pesantren, hari dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Tanda-tanda kehidupan muncul sejak fajar manyingsing, sejak azan berkumandang, dan para santri antri untuk berwudu. Suasana ini menjadi cikal kesadaran ekoteologis, santri dididik untuk mencintai lingkungan bahkan sejak baru terjaga. Ada larangan untuk berlebih-lebihan (boros dalam penggunaan air), bahkan pada perkara yang wajib (yakni wudu). Demikian halnya dalam urusan makan yang merupakan kebutuhan primer, Nabi mengajarkan untuk berhenti, bahkan sebelum kenyang. Dari dampar pesantren, saya menyadari betapa indahnya jika nilai-nilai ini dapat terus hidup dalam setiap tindakan kecil. Dari dalam biliknya pula, saya memahami krisis iklim, ia bukan hanya persoalan para ilmuwan dan pemangku jabatan, apalagi pemangku kepentingan, tetapi persoalan kita semua, termasuk para santri.
Persoalan Paling Mendesak
Data menunjukkan krisis iklim itu nyata. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat tahun 2023-2025 sebagai tiga tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan. Program Lingkungan PBB (UNEP) menghitung bahwa kebijakan iklim yang berlaku hari ini masih menuju pemanasan sekitar 2.8°C, jauh di atas ambang batas aman Perjanjian Paris. Dalam Laporan Resiko Global, PBB menempatkan kegagalan tindakan dalam perubahan iklim sebagai yang paling berisiko. Dan yang lebih mengerikan, Forum Ekonomi Dunia (WEF) menempatkan cuaca ekstrem menjadi resiko global paling parah untuk bumi dalam sepuluh tahun kedepan.
Angka-angka itu terasa abstrak sampai kita melihat wajah petani yang gagal panen karena musim tak lagi bisa ditebak, nelayan yang kehilangan hari melaut karena cuaca tak menentu, warga pesisir yang terusir banjir rob, dan desa-desa yang kekeringan di musim kemarau. Jika kita menempatkan semua persoalan zaman ini dalam satu timbangan, krisis iklim dan kerusakan ekosistem sangat layak berada di posisi teratas. Sebab ia adalah persoalan yang menjadi fondasi bagi semua persoalan lain. Pangan, air, kesehatan, ekonomi, bahkan perdamaian, semuanya bertumpu pada bumi yang masih layak dihuni (habitable). Tak akan ada lagi pembangunan di planet yang tak lagi mampu menopang kehidupan.
Tenggelam di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
Ironisnya, persoalan sepenting ini justru kerap terdesak ke pinggir jurang. Dunia sibuk dengan perang dan ketegangan geopolitik. Konflik bersenjata di berbagai kawasan menyedot perhatian pemimpin dunia, anggaran negara, dan energi diplomasi. Belanja pertahanan meningkat, sementara pendanaan iklim yang dijanjikan untuk negara-negara berkembang berjalan tersendat. Rivalitas antarnegara besar membuat kesepakatan iklim sulit dicapai karena setiap negara lebih sibuk menghitung keunggulan strategisnya ketimbang keselamatan bersama.
Perang juga bukan sekadar mengalihkan perhatian, tetapi ikut memperparah krisis. Menghancurkan hutan dan lahan, mencemari tanah dan air, memicu lonjakan emisi, dan membuat negara-negara kembali bergantung pada bahan bakar fosil demi alasan keamanan energi. Kita seperti penumpang kapal yang sibuk bertengkar soal kursi, padahal lambung kapal sudah bocor.
Di dalam negeri pun demikian. Isu lingkungan sering kalah oleh kepentingan jangka pendek, target pertumbuhan, kebutuhan investasi, dan agenda politik yang berganti setiap musim. Kerusakan alam dianggap harga yang wajar dari kemajuan. Padahal larangan berbuat kerusakan di bumi (QS. al-A’raf [7]: 56) telah tertulis dengan jelas. Juga telah ditegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul akibat ulah manusia sendiri (QS. ar-Rum [30]: 41).
Bumi Menyembuhkan Luka
Di sini saya perlu berhati-hati. Banyak orang menyebut bencana sebagai persoalan biasa, proses alam, atau dengan keji menyebut sebagai kemarahan alam. Saya lebih suka memandangnya dengan bahasa bumi: cara sebuah sistem yang tertekan memulihkan keseimbangannya. Banjir datang ketika daerah resapan hilang dan sungai kehilangan ruang. Longsor terjadi ketika lereng gundul tak lagi punya akar penahan. Kemarau panjang dan gelombang panas adalah isyarat bahwa keseimbangan atmosfer telah terganggu. Alam memiliki mekanisme koreksi, dan mekanisme itu sering kali kita anggap sebagai bencana dan kemarahan.
Namun, kita tidak boleh berhenti pada pemaknaan romantis itu. Tidak semua bencana dapat dikaitkan langsung dengan perubahan iklim, dan agama tidak boleh dipakai untuk menyebarkan klaim. Yang pasti, kerusakan yang kita timbulkan memperbesar daya rusak bencana. Yang paling menyakitkan, korbannya sering kali bukan mereka yang paling banyak merusak, melainkan petani kecil, nelayan, dan keluarga miskin yang rumahnya paling dekat dengan sungai dan pantai.
Karena itu, bencana semestinya dibaca sebagai peringatan untuk berbenah, bukan sekadar nasib yang harus diterima. Bumi bukan warisan untuk dihabiskan. Ia adalah titipan dari generasi mendatang yang wajib kita kembalikan dalam keadaan baik. Menghabiskannya sama dengan penghianatan. Selama kita melukai bumi, selama itu pula bencana terjadi, karena itu adalah mekanisme penyembuhan diri.
Modal Santri Indonesia
Di tengah suramnya gambaran itu, saya melihat harapan pada sesuatu yang dekat dengan saya, pesantren dan santri. Indonesia memiliki puluhan ribu pesantren dengan jutaan santri, tersebar hingga pelosok desa, bahkan merambah ke mancanegara. Dan kepercayaan masyarakat kepadanya adalah modal sosial yang langka. Ketika kiai dan santri bicara, masyarakat akan mendengar. Ketika kiai dan santri bertindak, mereka menganggapnya sebagai teladan.
Santri Indonesia juga tumbuh dengan nilai yang telah lama hidup dan berakar dari rahim bangsa, gotong royong, musyawarah, sederhana, hemat, serta khidmah, pengabdian kepada guru dan masyarakat yang menjadi fondasi etika lingkungan. Dalam kerangka maqashid al-syari’ah, menjaga lingkungan (hifzh al-bi’ah) bukan agenda tambahan, melainkan penopang bagi perlindungan jiwa, harta, keturunan, dan akal. Air yang tercemar mengancam jiwa. Lahan yang rusak menghancurkan harta petani. Bencana yang berulang memutus pendidikan generasi berikutnya. Gagasan Fikih Lingkungan yang dikembangkan ulama seperti KH. Ali Yafie menegaskan bahwa agama – yang digenggam para santri – punya perangkat intelektual dan etis yang kokoh untuk persoalan ekologi, sekaligus meneguhkan kembali warisan bangsa Indonesia tentang keseimbangan anatara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dari Sajadah ke Garis Depan
Saya tidak naif. Santri yang menghemat air tidak akan serta-merta menurunkan suhu bumi. Krisis iklim bersifat sistemik, menuntut perubahan pada kebijakan energi, tata ruang, industri ekstraktif, transportasi, dan komitmen politik para pengambil keputusan. Tanggung jawab itu tidak boleh dilimpahkan kepada individu.
Karena itu, kesalehan ekologis harus melampaui perilaku pribadi. Santri harus berani bersuara ketika proyek pembangunan global dan nasional mengabaikan dampak sekecil apapun pada komunitas rentan. Laporan Atribusi Cuaca Dunia (WWA) hampir memastikan bahwa gelombang panas – sebagai penyebab kematian terbesar dibanding seluruh bencana alam di Eropa – dan banjir bandang di Nepal berkaitan erat dengan krisis iklim. Dari sinilah kecintaan kepada bumi dan tanah air diuji. Mungkin, kita harus merenungkan petanyaan ini: apakah kita benar-benar seorang pecinta alam, atau sekedar penikmat?
Sikap ini menuntut kita menghindari dua jebakan, merasa tindakan kecil sudah cukup menyelesaikan segalanya, atau merasa masalahnya terlalu besar sehingga tak perlu berbuat apa-apa. Kebenarannya ada di antara keduanya. Langkah kecil yang konsisten, dievaluasi, dan dikerjakan bersama akan menjadi gerakan. Semoga, kampanye gagasan ekoteologi KH. Nasaruddin Umar di panggung dunia menjadi awal yang berkesinambungan.
Bumi, Agama, dan Kita
Akhirnya, menjaga bumi bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan mandat Tuhan dan panggilan kemanusiaan yang mutlak. Dari bilik pesantren hingga panggung dunia, santri tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah rumah bersama yang sedang terbakar. Langkah kecil dalam kesederhanaan hidup harus berkelindan dengan keberanian moral untuk mengawal kebijakan publik. Sebab pada akhirnya, kesalehan sejati tidak hanya diukur dari khusyuknya doa di atas sejadah, tetapi juga dari sejauh mana kita menjaga tanah, air, dan kehidupan yang diamanahkan kepada kita.
Dunia boleh sibuk dengan perang dan perebutan pengaruh. Namun, di serambi-serambi pesantren dari Aceh sampai Papua, dan ruang-ruang kuliah di seluruh mancanegara, ada jutaan anak muda yang memilih jalan lain, menjadikan ilmu sebagai tindakan, menjadikan khidmah sebagai penyelamat bumi. Jika kita berhasil membuktikan bahwa mengaji melahirkan kepedulian, dari serambi pesantren akan memancar harapan baru bagi masa depan global yang lebih adil, hijau, dan bermartabat.
Bumi tidak membutuhkan ratapan atau slogan. Tetapi, membutuhkan manusia yang memahami kerusakannya, menghentikan apa yang memperparahnya, dan memperjuangkan kehidupan bagi generasi berikutnya. Bumi dan alam semesta bukan warisan, tapi makhluk Tuhan seperti kita.




